37 Puisi Cinta Romantis Pilihan, Manis dan Indah

Friday, November 10th, 2017 - Puisi

Puisi cinta romantis. Cinta merupakan sebuah hal yang subjektif yang mengandung banyak makna. Ada yang mengatakan cinta itu tindakan, perasaan semata, dan ada pula yang mengatakan bahwa cinta adalah gabungan dari keduanya. Adapun cinta dan asmara memang adalah sesuatu yang paling berkesan dalam kehidupan manusia yang menuh dengan lika-liku perasaan baik itu sedih dan bahagia.

Berikut ini adalah kompilasi puisi cinta terbaik yang dipilih sebagai apresiasi cinta lewat sebuah syair puisi yang akan diposkan pada halaman ini untuk menjadi bacaan yang menarik dan seru serta menghibur bagi pada pengagum cinta. Semoga puisi cinta berikut ini bisa menjadi inspirasi anda sekalian dan dapat menjadi media menarik untuk mengapresiasi rasa cinta.

puisi-cinta

Puisi Cinta Terbaik

***

Impian Semata

Hanya sebatas angin melintas,
Membuih butiran-butiran debuh.
Hati mengeluh, merintih,
mungkinkah bisa?
Ataukah dapat?

Tinggallah sebatas angan
Diri ku tak pantas tuk bersanding dengan mu.
Kamu hanyalah bayangan dalam nyata ku,
yang tak bisa ku gapai.
Begitulah kisah ku,
Kisah yang tak perna kau tau.

Alangkah bahagianya bilamana disisi mu,
Melewati kerasnya dunia bersama mu,
Namun aku dan kamu umpama minyak dan air yang mustahil tuk bersatu.

Caraku Mengagumimu

Dalam sepinya waktu
Kukirim bait bait sajakku
Bersama desiran aliran udara
Aku yg mengangumimu laksana hujan yang menyinari tanah
Seperti bulan yg menerangi malam.
Bayanganmu melekat di pepupuk
mataku
Keidahanmu begitu nyata
Tanpa goresan warna.
Dan itu membuatmu lebih istimewa
Biarkanlah rasa kagum ini
mengalir bagai air di samudra kalbuku
Meski dalam bisu
Seperti karang dilautan
karna aku adalah senja yg tak kan
berembun

Buah Rindu

Rindulah padaku!
Seperti aku,
Terus memanjat
Maka, bebuahlah kau lebat

Gelas air mataku telah penuh
Buka mulutmu
Dan katakan cinta dengan
sungguh!
Katakan, sampai kau diam bisu

Merpati di atap rumahmu,
Lihatlah!
Aku cinta sampai di ujung rambutmu
Mawar indah.
Buah di mulutmu,
Kunyahlah!
Aku rela hancur raga,
Ingatlah!

Cintaku seperti garis di tanganmu
Abadi membekas dalam hatimu
Kutuliskan surat padat makna
Kuawali namaku namamu
Jika mimpimu tak lagi aku

Tetaplah Disini

Suara renyahmu tak bisa kulupakan
Manisnya senyummu masih tetap terekam dibenakku
Namamu selalu ada, selalu kuingat.
Seakan tlah mengukir dengan sendirinya di hati ini

Pernah aku berpikir,
Jangan-jangan pertemuan kita hanya pada perkenalan singkat itu
Dan tidak akan pernah terulang kembali
Seakan itu semua hanya mimpi

Tapi,
Aku tak ingin itu terjadi.
Pikiranku biarlah menjadi pikiranku sendiri,
Jangan kau jadikan nyata Tuhan, aku mohon.

Aku ingin,
Aku selalu dapat melihatmu
Aku selalu dapat melihat senyum manismu
Meski ku tak mampu mendekatimu

Aku mohon Tuhan,
Jangan hilangkan dia
Jangan musnahkan dia
Dari kehidupanku

Biarlah puisi ini mewakili,
Perasaanku padanya saat ini.
Biarkan suatu saat Tuhan menunjukkan,
Rasaku ini kepada sang pujaan.

Selepas Bayang

Sentuhanmu kabut hanya tinggal embun yang tak basah.
Kusimpan rambut sehelai bekas jatuh di pundakmu yang memerah.
Yang dulu kuambil pakai bibir yang kini kaku pecah.

Sambil memeluk bayang kuraba malam-malam yang tertinggal di punggung.
Lantas kuberikan senyum sederhana.
Karena terasa sakit bila kutarik kedua kutub bibirku lebih menjauh lagi.
Aku tak rela berdarah kecuali karena ulah gigimu.
Tapi di mataku hanya ada kunang kunang yang kuciptakan sendiri di dalam kamar -bukan wajahmu.

Ah cukup dengan itu.
Kuletakkan tangan di atas bantal.
Tak kutemukan lagi permukaannya yang basah oleh rambut panjang kusut berpeluh.
Aku kering, badanku hangus.
Terbakar gairah sampai ke tulang.

Mawar

Satu masa berlalu dalam diam.
Menghentak rasa yang sebenarnya tengah berjuang.
Menunggumu dalam keheningan.
Harummu masih dalam kenangan.
Semerbak rindu menyatakan kesyahduan.
Lantas haruskah ku lanjutkan rasaku?
Ketika luka lama juga tengah tengiang dalam jiwaku?
Pun begitu, ku anggap kau mawar bagiku.
Keharuman mu, menyandraku untuk tetap mengenangmu.

Bukan Aku

Wajah layu, mata berbinar
Bibir membeku, langkahku gontai
Berjalan tanpa tujuan
Tanpa gairah hidup yang penuh warna

Tak ada warna yang kutorehkan
Di kanvas hidupku saat ini
Bahkan, tak ada bunga yang kutanam
Dalam taman hidupku
Yang sangat luas ini

Aku tertegun, tertunduk malu
Pada Tuhanku Yang Maha Agung
Ada apa dengan ruh ini?
Bukankah Tuhan telah memberikan segalanya?
Kenapa aku ingkari?

Oh, ini bukan aku
Aku harus bangkit, semangat
Tuk menorehkan warna
Di kanvas hidupku
Karena ku tahu
Tuhan bersamaku

Dalam Ingatan

Aku tak mengerti.
Kenapa aku masih disini.
Menatapnya dengan hati tersakiti.
Aku tak mengerti.
Kenapa aku tak kunjung pergi.
Melangkah kedunia ku sendiri.
Aku tak mengerti.
Kenapa harus dia yang ada dalam mimpi.
Menguatkan ingatan ku kembali.
Mungkin harus ku sadari.
Ada rasa yang tak bisa ku bohongi.
Mungkin harus ku sadari.
Terlalu besar rasa ini.
Mungkin harus ku sadari.
Aku tak sanggup membenci.
Mungkin sebaiknya aku seperti ini.
Lumpuh dalam kenangan masa lalu.
Tak mampu pergi melupakanmu.
Coba terus mencintaimu.
Walau kau tak lagi ada tuk ku

Simfoni Yang Terurai

Ingin kuciptakan sebuah simfoni
Dalam cinta yang tak sempurna
Mencoba untuk membangun asa
Meski dalam ketidakpastian cinta

Alunan nada tak lagi mengayun indah
Sebuah kehancuran yang terasa dilema
Dayu-mendayu terus kuciptakan nada
Mengikis perih untuk menghilangkan dahaga

Oh,, Astaga,, Aku telah lupa
Apa yang dikehendaki oleh sang Kuasa
Bahwa jiwa telah diciptakan
Dengan sepasang Cinta..

Namun kini cintaku telah pergi
Entah dia akan kembali lagi?
Bukan aku tak perduli
Karna ku tahu kini Aku sendiri

Baca puisi cinta romantis lainnya pada halaman berikutnya…